Press "Enter" to skip to content

Menemui Sejuknya Desa Wanagiri

Kesempatan tak terlupakan, mengunjungi Desa Wanagiri. Saat itu awal bulan Desember. Saya berangkat dari Denpasar pada pagi hari. Cuaca cerah, Denpasar agak panas di pagi itu. Sekitar 3 jam perjalanan mobil, sampailah saya ke Desa Wanagiri. Langsung menemui teman baru saya, I Wayan Bumiasa, Kepala Desa Wanagiri. 

Bila mau tahu kisah danau ini, datanglah ke Desa Wanagiri, Buleleng

Nampaknya sang Kepala Desa sedang banyak tamu. Nampak sibuk, tapi pak Wayan begitu saya memanggilnya, tak bisa sembunyikan kegembiraan atas kedatangan saya yang tiba-tiba nongol saja. “Wauw …bapak. Selamat datang di Wanagiri, Sebentar, sebentar … silahkan duduk. Saya ada tamu dari kunjungan studi banding desa. Saya temui mereka dulu,”  begitu sambut pak Wayan. Ia pergi ke ruang rapat, tapi tak ada 1 menit pak Wayan datang lagi duduk sebelah saya. “Ada apa ini?”   Saya jalan-jalan saja, begitu jelas saya. Biar saja ini jadi kunjungan misteri-bahagia.

“Tentu saya ingin tahu rasa dinginnya air terjun Banyumala,” saya tegaskan saja tujuan ke Wanagiri. Setelah urusan kantor pak Wayan selesai, maka jadilah kami ke lokasi Air Terjun Banyumala. Naik motor sekitar 5 menit dari kantor Desa Wanagiri. Suara khas hutan langsung menyambut kami di lokasi. “Ini bakalan hujan,” kata pak Wayan. Saya sudah berdoa, janganlah hujan sebelum saya sampai ke bawah, air terjun Banyumala. Pak Wayan ketawa. Turunlah kami ke lokasi air terjun, menapak jalanan berbatu 60 derajat ke bawah. Selama perjalanan turun ke lokasi air terjun, kami banyak menemui turis manca negara naik habis menikmati air terjun. Hello, begitu saja, saling sapa. 

Wah benar, air terjun Banyumala begitu sejuknya. Alam asli, di tengah hutan dan suara air terjun berayunan irama dengan suara khas hutan. Suasananya ramai, banyak orang mandi, berfoto dan ada juga yang mainkan drone. Dari wajahnya, seperti ada dari Eropa, China dan India. Tentu dari dalam negeri juga ada.

Ternyata doa dipenuhi. Setelah saya menyentuh air terjun Banyumala, hujan datang. Diawali gerimis dan langsung deras. Kami langsung naik, ikuti jalan tadi dan wah, berat sekali rasanya menahan beban badan yang kurang terlatih panjat gunung ini. Meski butuh agak banyak waktu, sampailah saya di atas,  lokasi pintu masuk lokasi Air Terjun Banyumala. Tentu, pak Wayan sudah mendahului saya sampai lokasi.

Setelah puas dengan Air Terjun Banyumala, kami kembali ke jalan utama Desa Wanagiri dan menikmati indahnya Danau. Sengaja tak saya sebutkan nama danau di sini, ada harapan anda sendiri saja yang ke sini dan cari tahu. Temuilah teman saya, I Wayan Bumiasa, Perbekel yang baik hati dan ramah. Sebelum kembali ke Denpasar pada malam hari, saya diajaknya makan makanan khas Desa Wanigiri. Pengalaman yang menyenangkan. Terima kasih pak Wayan. Saya sudah menemui sejuknya Desa Wanagiri, Buleleng, Bali. Saya khabarkan ini untuk gelorakan “Ayo Ke Desa” bersama merDesa Institute dan Desalogi.ID 

Saya berfoto bersama pak Wayan, Kepala Desa Wanagiri, Buleleng