Press "Enter" to skip to content

Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia: Tegaskan Pengakuan, Segerakan Pengesahan RUU Masyarakat Adat

Tidak lama setelah wabah virus Covid-19 menyebar luas, kita juga melihat masyarakat adat mampu beradaptasi. Melakukan tindakan sesuai konteks wilayah dan kearifan lokal mereka. Seperti yang dilakukan masyarakat adat Sungai Utik, “menyegel” wilayah adat mereka. Melakukan isolasi secara sukarela, mencegah virus masuk berdasar pengetahuan asli mereka. Berita dan gambar tindakan mereka itu cepat menyebar melalui media sosial. Pengetahuan asli masyarakat adat, hubungan kehidupan mereka dengan alam, dan pesan-pesan tanpa henti dari masyarakat adat telah menyampaikan bahwa kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam berpotensi menimbulkan penyakit. 

Ketahanan masyarakat adat dan Covid-19 diangkat menjadi thema peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat. Bagaimana pun kehidupan mereka yang terhambat atas pengakuan keberadaan mereka, wilayah adat yang tidak diakui menjadikan situasi kehidupan terus terancam kerentanan, baik dari akses layanan dasar, ketimpangan dan kemiskinan, yang bahkan terjadi ekstrem. Orang sering bertanya-tanya, kenapa mereka yang kaya atas sumberdaya alam itu justru tidak bisa mengembangkan kehidupan yang lebih sejahtera ?. Salah satu sebab utamanya adalah tidak adanya pengakuan berdasar hukum atas keberadaan mereka, berikut wilayah adat dan hak-hak tradisional mereka. Pernyataan deklaratif di Konstitusi tentang penghormatan dan perlindungan hak-hak masyarakat hukum adat tidak dijalankan secara hukum dan kelembagaan secara efektif di lapangan. Orang-orang bisa berdebat Panjang soal apakah sesungguhnya masyarakat adat itu kaya atau miskin? Tapi fakta yang tidak dapat disangkal, mereka tidak ada akses yang layak atas sumber penghidupan yang berkepastian hukum, aman dan ayak, jauh dari akses pelayanan dasar pendidikan dan kesehatan, tidak leluasa menggunakan hak-hak dan pilihan untuk mengembangkan potensi diri dan komunitasnya. 

Hutan Adat Menua Sungai Utik. Foto: Kynan Tegar

Hari Internasional Masyarakat Adat tahun ini memberi peringatan reflektif, tentang kemiskinan dan kerentanan itu akan menjadikan mereka menjadi lokus yang bahaya, terancam pandemi covid-19. Hak-hak masyarakat adat dan wilayah adatnya haruslah segera diaktualkan, menjadikan keprihatinan berpuluh tahun menjadi kebijakan penghormatan dan perlindungan. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) sebagai organisasi masyarakat adat se-antero nusantara menguatkan pesan ini dengan tuntutan: segera sahkan RUU Masyarakat Adat. 

Pada peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS), Sekjen AMAN menyampaikan pesan penting. “COVID-19 menegaskan bahwa apa yang selama ini kita perjuangkan adalah benar dan baik. Pandemi memberikan berbagai jawaban sekaligus memberikan petunjuk arah ke masa depan yang lebih baik, sebuah kehidupan baru dimana kita harus hidup terus menjaga ibu bumi dan adil dengan sesama manusia. Apa saja jawaban yang diberikan oleh pandemi kepada kita?” 

Pertama, bahwa Masyarakat Adat yang bertahan di tengah tengah krisis yang sedang berlangsung saat ini  adalah  yang masih menjaga keutuhan wilayah adat, dan setia menjalankan nilai-nilai dan praktek luhur nenek moyang kita. Musyawarah adat, gotong royong, memiliki rasa senasib sepenanggungan dan memanfaatkan kekayaan titipan leluhur secara bijaksana.

Masyarakat Adat beserta wilayah adatnya yang masih bertahan sebagai sentral produksi dan lumbung pangan telah terbukti mampu menyelamatkan warga Masyarakat Adatnya, sesama kelompok Masyarakat Adat bahkan menyelamatkan bangsa dan negara dari ancaman krisis pangan. Masyarakat Adat tidak hanya memiliki kemampuan untuk memenuhi pangannya secara mandiri, tetapi mampu berbagi dengan komunitas-komunitas lain, bahkan ke kota-kota.

Kedua, bahwa Masyarakat Adat yang tanahnya sudah dirampas oleh perusahaan & pemerintah, yang menjadi buruh dan dipaksa menjadi petani kelapa sawit tidak memiliki daya tahan tahan menghadapi krisis pangan akibat pandemi yang berkepanjangan.  Masyarakat Adat yang sudah tidak berdaulat atas wilayah adatnya bernasib sama dengan yang hidup di perkotaan yang merupakan tempat yang paling tidak aman di dunia saat ini. 

Ketiga, bahwa selama masa pandemi ini kita juga membuktikan bahwa rasa senasib sepenanggungan antara Masyarakat Adat, Petani, Nelayan dan Buruh mampu membuat kita bertahan. 

Keempat, hari ini kita menyaksikan satu sejarah baru, di mana kapitalisme sedang mengalami krisis yang sangat besar. Paradigma pembangunan yang mengandalkan ekonomi-politik neoliberalisme yang selama ini dipraktekkan oleh rejim Kapitalisme global telah gagal total. Gagal membangun kesejahteraan bagi kita semua. Pabrik ditutup, industri skala besar terancam bangkrut, PHK massal terjadi dimana-mana, biaya hidup warga perkotaan meningkat, tingkat pengangguran di dunia dan di Indonesia terus meningkat pesat. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa rejim Kapitalisme dengan model ekonomi neoliberalnya gagal total. 

Baca: Pidato Lengkap ekjen AMAN dalam perayaan HIMAS, 9 Agustus 2020

Sudah jelas, cara hidup dan hubungan masyarakat adat dengan alam, kemampuan dan pengetahuan yang dirawat berdasar adat dan tradisi itu telah menjadi sumber ketahanan. Kehidupan itu begitu berharga. Tidak ada upaya sungguh-sungguh dari Negara terhadap kehidupan masyarakat adat bisa menyangkal masa depan itu sendiri, terjebak dalam jargon-jargon keberlanjutan. Menstigma kehidupan yang disebut “tradisional” itu sungguh tindakan kebijakan yang tidak dapat dipertahankan. Kehidupan masa depan yang berkelanjutan justru harus belajar dari masyarakat adat. 

Sesuai dengan penjelasan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia merupakan kesempatan kesempatan untuk mendidik publik tentang isu-isu yang dialami masyarakat adat, untuk memobilisasi kemauan politik dan sumber daya untuk mengatasi masalah global, dan untuk merayakan dan memperkuat pencapaian kemanusiaan. Kesempatan itu segeralah ditindaklanjuti sebagai pilihan kebijakan: sahkah RUU Masyarakat Adat. (AH).

Be First to Comment

Silahkan berkomentar ..

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: